Perhatian :
Kunci jawaban USEK KKPI Paket A dan Paket B diberikan setelah mendaftar di link-link berikut.
SEGERA KLIK DI SINI.
ATAU daftar di sini.
ATAUDaftar di sini
SAMBIL BELAJAR, SEBENARNYA ANDA JUGA TELAH MENGHASILKAN DOLLAR TANPA MODAL, CUKUP DAFTAR AJA DI LINK-LINK YANG TELAH SAYA SEDIAKAN.
Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts
Friday, 16 March 2012
Friday, 9 March 2012
SOAL USEK KKPI - TEORI (edisi terbatas)
Jika Anda ingin siap dengan ujian sekolah (USEK) KKPI, pelajari materi berikut. Tersedia dua paket, yaitu Paket A dan Paket B.
- Paket A, klik di sini
- Paket B, klik di sini
Kunci jawaban akan dikirim via email, jika Anda sudah mendaftar di sini. Klik link ini.
Jangan lupa, tinggalkan alamat email pada komentar.
BURUAN, KARENA LINK AKAN SEGERA DITUTUP.
- Paket A, klik di sini
- Paket B, klik di sini
Kunci jawaban akan dikirim via email, jika Anda sudah mendaftar di sini. Klik link ini.
Jangan lupa, tinggalkan alamat email pada komentar.
BURUAN, KARENA LINK AKAN SEGERA DITUTUP.
Tuesday, 2 June 2009
100% Siswa 19 Sekolah Tidak Lulus?
Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia pendidikan kita. Sebanyak 19 sekolah di negeri tercinta ini menghebohkan dengan angka ketidaklulusan sebesar 100%. Yang lebih parah lagi, di antara sekolah-sekolah tersebut terdapat beberapa sekolah yang sudah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Ironis khan?
Kita tidak usah terburu-buru menghakimi siswa kalau toh benar mereka mencontoh kunci jawaban palsu yang beredar saat itu (ini khan belum terbukti secara hukum alias hanya praduga). Beberapa kemungkinan bisa muncul dari permasalahan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa mengindikasikan terdapatnya beberapa kejanggalan.
Pertama, siswa yang mengikuti UAN saat itu ternyata kini justru sudah diterima di berbagai PTN. Apakah mungkin, siswa yang jelas-jelas sudah diterima tersebut, baik melalui PMDK atau jalur khusus lainnya, masih mempunyai sikap percaya pada hal lain di luar kemampuannya. Siswa yang pandai, tentu akan percaya pada diri sendiri (buktinya bukan hanya satu atau dua orang saja). Kalau saat UAN dia diberi kunci jawaban pun, pasti dia merasa tidak tertarik. Karena dari awalnya dia sudah pandai.
Kedua, secara kelembagaan setiap sekolah (terlebih RSBI) tentu akan terpacu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai sekolah yang pantas mendapat penghargaan sematan nama tersebut. Dan, bagi sekolah RSBI tentu mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan yang dijalankan di lembaga tersebut. Tentunya, sekolah tersebut merasa risih apabila menggunakan langkah penyebarluasan jawaban UAN kepada siswanya terlebih dengan tujuan untuk meningkatkan image sekolah.
Ketiga, tidak adanya bantahan sama sekali dari pihak sekolah ataupun siswa-siswa sekolah bersangkutan. Tidak ada siswa yang membantah jika mereka merasa memang tidak melakukan hal tersebut. Secara kelembagaan, sekolah justru harus memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut (penyebarluasan jawaban UAN palsu) tidak pernah dilakukan. Pihak sekolah tidak pernah melakukan hal tersebut, justru mengamini jika siswa-siswa melakukan praktek tersebut (tetapi belum pernah dilakukan interogasi kepada para siswa khan??) Langkah yang perlu dilakukan sekolah adalah melakukan cross check kepada siswa-siswanya terlebih dahulu, jangan menghakimi siswa (atau mencari kambing hitam atas 'pesanan'??)
Keempat, mengapa kejadian tersebut sampai terjadi pada daerah-daerah berbeda, bukan satu daerah saja. Kalau kemungkinan terjadi pemberian kunci jawaban palsu, daerah kasusnya hanya dalam batas wilayah kecil bukan skala nasional.
Kelima, perguruan tinggi negeri yang diberi tugas mengawal pelaksanaan UAN tempo hari belum (tidak pernah) mengklarifikasi tentang kasus tersebut. Yang terjadi sumber berita berpusat pada beberapa pihak saja. Seharusnya, harus ada perimbangan berita dari sumber penilai atau pendamping kegiatan UAN tersebut.
Alasan-alasan tersebut menarik untuk diperdebatkan. Apakah benar-benar siswa telah melakukan kegiatan tersebut? Mengapa sekolah mengamini (ikut menghakimi) siswa yang belum tentu bersalah? Begitu mudahnya vonis bahwa yang bersalah dalam kasus tersebut adalah siswa? Begitu mudahnya diadakan ujian ulang terhadap kasus tersebut.
Kalau toh boleh saya memberikan pertimbangan, mengapa siswa hamil (melahirkan?) saat UNAS dilarang mengikuti ujian? Padahal, belum tentu dia lulus ataukah tidak? Mengapa siswa-siswa yang bersalah (seperti "dirumahkan" di kantor polisi) masih mempunyai hak untuk ikut UNAS sementara siswa hamil/melahirkan tidak mempunyai hak? Marilah kita meluruskan dan menata sistem pendidikan kita bukan berdasarkan tawar menawar.
Kita tidak usah terburu-buru menghakimi siswa kalau toh benar mereka mencontoh kunci jawaban palsu yang beredar saat itu (ini khan belum terbukti secara hukum alias hanya praduga). Beberapa kemungkinan bisa muncul dari permasalahan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa mengindikasikan terdapatnya beberapa kejanggalan.
Pertama, siswa yang mengikuti UAN saat itu ternyata kini justru sudah diterima di berbagai PTN. Apakah mungkin, siswa yang jelas-jelas sudah diterima tersebut, baik melalui PMDK atau jalur khusus lainnya, masih mempunyai sikap percaya pada hal lain di luar kemampuannya. Siswa yang pandai, tentu akan percaya pada diri sendiri (buktinya bukan hanya satu atau dua orang saja). Kalau saat UAN dia diberi kunci jawaban pun, pasti dia merasa tidak tertarik. Karena dari awalnya dia sudah pandai.
Kedua, secara kelembagaan setiap sekolah (terlebih RSBI) tentu akan terpacu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai sekolah yang pantas mendapat penghargaan sematan nama tersebut. Dan, bagi sekolah RSBI tentu mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan yang dijalankan di lembaga tersebut. Tentunya, sekolah tersebut merasa risih apabila menggunakan langkah penyebarluasan jawaban UAN kepada siswanya terlebih dengan tujuan untuk meningkatkan image sekolah.
Ketiga, tidak adanya bantahan sama sekali dari pihak sekolah ataupun siswa-siswa sekolah bersangkutan. Tidak ada siswa yang membantah jika mereka merasa memang tidak melakukan hal tersebut. Secara kelembagaan, sekolah justru harus memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut (penyebarluasan jawaban UAN palsu) tidak pernah dilakukan. Pihak sekolah tidak pernah melakukan hal tersebut, justru mengamini jika siswa-siswa melakukan praktek tersebut (tetapi belum pernah dilakukan interogasi kepada para siswa khan??) Langkah yang perlu dilakukan sekolah adalah melakukan cross check kepada siswa-siswanya terlebih dahulu, jangan menghakimi siswa (atau mencari kambing hitam atas 'pesanan'??)
Keempat, mengapa kejadian tersebut sampai terjadi pada daerah-daerah berbeda, bukan satu daerah saja. Kalau kemungkinan terjadi pemberian kunci jawaban palsu, daerah kasusnya hanya dalam batas wilayah kecil bukan skala nasional.
Kelima, perguruan tinggi negeri yang diberi tugas mengawal pelaksanaan UAN tempo hari belum (tidak pernah) mengklarifikasi tentang kasus tersebut. Yang terjadi sumber berita berpusat pada beberapa pihak saja. Seharusnya, harus ada perimbangan berita dari sumber penilai atau pendamping kegiatan UAN tersebut.
Alasan-alasan tersebut menarik untuk diperdebatkan. Apakah benar-benar siswa telah melakukan kegiatan tersebut? Mengapa sekolah mengamini (ikut menghakimi) siswa yang belum tentu bersalah? Begitu mudahnya vonis bahwa yang bersalah dalam kasus tersebut adalah siswa? Begitu mudahnya diadakan ujian ulang terhadap kasus tersebut.
Kalau toh boleh saya memberikan pertimbangan, mengapa siswa hamil (melahirkan?) saat UNAS dilarang mengikuti ujian? Padahal, belum tentu dia lulus ataukah tidak? Mengapa siswa-siswa yang bersalah (seperti "dirumahkan" di kantor polisi) masih mempunyai hak untuk ikut UNAS sementara siswa hamil/melahirkan tidak mempunyai hak? Marilah kita meluruskan dan menata sistem pendidikan kita bukan berdasarkan tawar menawar.
Tuesday, 7 April 2009
TIDAK PULANG KANGEN, MAU PULANG MALU
Pak Umar Bakri adalah buruh spidol. Tapi, awalnya dia merupakan buruh kapur tulis. Semenjak papan tulis berubah menjadi whiteboard, kapur tulis digantikan dengan spidol. Tidak mengherankan apabila spidol telah menjadi sahabat setianya.
Setiap hari Pak Umar Bakri selalu menyihir anak didiknya dengan kelincahan spidolnya di atas whiteboard. Kadangkala, Pak Umar Bakri mendapatkan keceriahan, tapi juga mendapatkan kejengkelan dari perilaku anak didiknya. Baginya, semua perilaku anak didiknya merupakan seni hiburan bagi kehidupannya.
KANGEN PAK UMAR BAKRI
Inilah yang membuat KANGEN Pak Umar Bakri ketika dia telah memutuskan diri untuk beralih profesi menjadi wiraswasta. Sebagai wiraswasta Pak Umar Bakri merasa kecukupan dari segi materi. Tetapi, dari kepuasan batin Pak Umar Bakri merasa asing dengan dunianya. Dia merindukan keceriaan, keluguan, dan kebandelan anak didiknya. Mungkin dia harus terlahir untuk menjadi pendidik bukan wiraswasta. Yang dihadapi kini hanyalah benda mati, yang tidak bisa diajak untuk berbagi keceriaan.
Lain halnya ketika dia berada di sekolah. Dia selalu ceria. Segi batinnya merasa terisi dan terpuaskan walaupun dari segi materi tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pak Umar Bakri sadar betul bahwa yang dibutuhkan oleh anak didiknya adalah pendidikan bukan pengajaran. Oleh karena itu, Pak Umar Bakri tidak pernah memarahi ataupun bahkan memukulnya jika ada anak didiknya berperilaku di luar kewajaran. Dengan sabar Pak Umar Bakri selalu menuntun dan mengarahkan siswanya apabila ada yang bertindak ‘nyeleneh’.
Prinsip yang selalu dipegang oleh Pak Umar Bakri hingga kini bahwa tugas guru adalah mendidik bukan mengajar. Mengajar adalah mudah, tapi mendidik lumayan susah. Kalau hanya sekadar ‘mengajar’, setiap orang (tidak punya profesi pendidik) tentu mampu. Mengajar cenderung bersifat transformasi ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan ‘mendidik’. Mendidik merupakan proses pembentukan nilai-nilai norma, sopan-santun, perilaku, dan kematangan berfikir. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat (sepakat?) memakai istilah ‘peserta didik, anak didik, pendidikan dasar, dinas pendidikan’, dan sebagainya bukan dengan sebutan ‘peserta ajar’, ‘anak ajar’, ‘pengajaran dasar’, dan ‘dinas pengajaran’.
Tidak mengherankan, kadang-kadang Pak Umar Bakri merenung dan berfikir keras apabila menjumpai teman kerjanya yang hanya sekadar datang, memberikan materi, dan pulang. Menurutnya, tidak perlu sekolah lagi apabila prosesnya demikian. Siswa cukup di’privat’kan; habis perkara.
Lebih memprihatinkan lagi, jika ada anak didik bermasalah, pihak pertama yang dipersalahkan adalah siswa bersangkutan. Janganlah anak yang sudah bersalah, justru dipersalahkan lagi. Alangkah arifnya jika kita peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh anak didik. Kita tidak perlu menunggu timbulnya perilaku menyimpang anak, tetapi seharusnya mampu mendeteksi dan mencegah timbulnya masalah pada anak didik kita.
Yang sangat menyedihkan adalah tuntutan kesejahteraan yang ditujukan kepada pemerintah. Abdi masyarakat yang sudah sejahtera dan menjadi pegawai pemerintah ini mengharapkan lebih sejahtera lagi. Wajar jika pemerintah mengamini permintaan tersebut sebab pemerintah juga membutuhkan dukungan dari elemen pendidikan ini. Tapi, kita juga perlu berkaca bahwa apakah yang sudah kita berikan untuk anak didik (sekolah) sudah layak dihargai sedemikian besar? Padahal, kalau kita mau berbagi nasib; masih ada salah satu elemen dari pendidikan (sekolah) kita yang juga butuh perhatian, yaitu Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Kita telah tahu loyalitas dan pengabdian mereka dalam pendidikan kita. Tidak hanya setahun dua tahun tetapi sudah puluhan tahun mereka mengabdikan diri di sekolah. Pernahkah kita peduli terhadap kehidupan keluarganya? Padahal, mereka juga merupakan salah satu bagian dalam rangka melaksanakan dan meningkatkan citra pendidikan kita. Mereka datang sebelum siswa datang, mereka pulang setelah siswa pulang. Mereka juga mempunyai prestasi. Tetapi, penghargaan apakah yang telah mereka dapatkan? Seharusnya kita merasa malu terhadap kenyataan ini.
KENYATAAN INI MEMBUAT MALU BAGI PAK UMAR BAKRI.
Setiap hari Pak Umar Bakri selalu menyihir anak didiknya dengan kelincahan spidolnya di atas whiteboard. Kadangkala, Pak Umar Bakri mendapatkan keceriahan, tapi juga mendapatkan kejengkelan dari perilaku anak didiknya. Baginya, semua perilaku anak didiknya merupakan seni hiburan bagi kehidupannya.
KANGEN PAK UMAR BAKRI
Inilah yang membuat KANGEN Pak Umar Bakri ketika dia telah memutuskan diri untuk beralih profesi menjadi wiraswasta. Sebagai wiraswasta Pak Umar Bakri merasa kecukupan dari segi materi. Tetapi, dari kepuasan batin Pak Umar Bakri merasa asing dengan dunianya. Dia merindukan keceriaan, keluguan, dan kebandelan anak didiknya. Mungkin dia harus terlahir untuk menjadi pendidik bukan wiraswasta. Yang dihadapi kini hanyalah benda mati, yang tidak bisa diajak untuk berbagi keceriaan.
Lain halnya ketika dia berada di sekolah. Dia selalu ceria. Segi batinnya merasa terisi dan terpuaskan walaupun dari segi materi tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pak Umar Bakri sadar betul bahwa yang dibutuhkan oleh anak didiknya adalah pendidikan bukan pengajaran. Oleh karena itu, Pak Umar Bakri tidak pernah memarahi ataupun bahkan memukulnya jika ada anak didiknya berperilaku di luar kewajaran. Dengan sabar Pak Umar Bakri selalu menuntun dan mengarahkan siswanya apabila ada yang bertindak ‘nyeleneh’.
Prinsip yang selalu dipegang oleh Pak Umar Bakri hingga kini bahwa tugas guru adalah mendidik bukan mengajar. Mengajar adalah mudah, tapi mendidik lumayan susah. Kalau hanya sekadar ‘mengajar’, setiap orang (tidak punya profesi pendidik) tentu mampu. Mengajar cenderung bersifat transformasi ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan ‘mendidik’. Mendidik merupakan proses pembentukan nilai-nilai norma, sopan-santun, perilaku, dan kematangan berfikir. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat (sepakat?) memakai istilah ‘peserta didik, anak didik, pendidikan dasar, dinas pendidikan’, dan sebagainya bukan dengan sebutan ‘peserta ajar’, ‘anak ajar’, ‘pengajaran dasar’, dan ‘dinas pengajaran’.
Tidak mengherankan, kadang-kadang Pak Umar Bakri merenung dan berfikir keras apabila menjumpai teman kerjanya yang hanya sekadar datang, memberikan materi, dan pulang. Menurutnya, tidak perlu sekolah lagi apabila prosesnya demikian. Siswa cukup di’privat’kan; habis perkara.
Lebih memprihatinkan lagi, jika ada anak didik bermasalah, pihak pertama yang dipersalahkan adalah siswa bersangkutan. Janganlah anak yang sudah bersalah, justru dipersalahkan lagi. Alangkah arifnya jika kita peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh anak didik. Kita tidak perlu menunggu timbulnya perilaku menyimpang anak, tetapi seharusnya mampu mendeteksi dan mencegah timbulnya masalah pada anak didik kita.
Yang sangat menyedihkan adalah tuntutan kesejahteraan yang ditujukan kepada pemerintah. Abdi masyarakat yang sudah sejahtera dan menjadi pegawai pemerintah ini mengharapkan lebih sejahtera lagi. Wajar jika pemerintah mengamini permintaan tersebut sebab pemerintah juga membutuhkan dukungan dari elemen pendidikan ini. Tapi, kita juga perlu berkaca bahwa apakah yang sudah kita berikan untuk anak didik (sekolah) sudah layak dihargai sedemikian besar? Padahal, kalau kita mau berbagi nasib; masih ada salah satu elemen dari pendidikan (sekolah) kita yang juga butuh perhatian, yaitu Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Kita telah tahu loyalitas dan pengabdian mereka dalam pendidikan kita. Tidak hanya setahun dua tahun tetapi sudah puluhan tahun mereka mengabdikan diri di sekolah. Pernahkah kita peduli terhadap kehidupan keluarganya? Padahal, mereka juga merupakan salah satu bagian dalam rangka melaksanakan dan meningkatkan citra pendidikan kita. Mereka datang sebelum siswa datang, mereka pulang setelah siswa pulang. Mereka juga mempunyai prestasi. Tetapi, penghargaan apakah yang telah mereka dapatkan? Seharusnya kita merasa malu terhadap kenyataan ini.
KENYATAAN INI MEMBUAT MALU BAGI PAK UMAR BAKRI.
Friday, 6 March 2009
SIAP UAN 2009
UAN 2009 sudah diambang pintu. Sudahkah Anda merasa sudah siap untuk menghadapinya. Sudahkah Anda membiasakan diri untuk bangun pagi? Sudahkah Anda mengurangi jam istirahat dan bermain Anda? Yang tidak kalah pentingnya adalah sudahkah Anda berkunjung dan meminta restu kepada kedua orang tua, guru-guru Anda, saudara-saudara Anda? Mulai sekarang, tatalah persiapan Anda untuk menyongsong salah satu ujian dalam perjalanan hidup Anda. Ada baiknya, Anda belajar melalui bank soal berikut. Soal-soal bisa didownload secara gratis.
A. Siap UAN SMK
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. Bahasa Inggris
B. SIAP UAN SMA
1. Matematika IPA
2. Matematika IPS
3. Indonesia
4. Bahasa Inggris
5. Sosiologi
6. Tata Negara
7. Antropologi
8. Ekonomi
C. SIAP UAN SMP
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. Bahasa Inggris
4. IPA
5. IPS
6. PPKn
D. SIAP UAN SD
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. IPA
4. IPS
5. PPKn
RANGKUMAN MATERI
1. Matematika SMP
2. Matematika SMA-IPS
3. Matematika SMA-IPA
A. Siap UAN SMK
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. Bahasa Inggris
B. SIAP UAN SMA
1. Matematika IPA
2. Matematika IPS
3. Indonesia
4. Bahasa Inggris
5. Sosiologi
6. Tata Negara
7. Antropologi
8. Ekonomi
C. SIAP UAN SMP
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. Bahasa Inggris
4. IPA
5. IPS
6. PPKn
D. SIAP UAN SD
1. Matematika
2. Bahasa Indonesia
3. IPA
4. IPS
5. PPKn
RANGKUMAN MATERI
1. Matematika SMP
2. Matematika SMA-IPS
3. Matematika SMA-IPA
Subscribe to:
Posts (Atom)