Showing posts with label Siswa. Show all posts
Showing posts with label Siswa. Show all posts

Friday, 9 March 2012

SOAL USEK KKPI - TEORI (edisi terbatas)

Jika Anda ingin siap dengan ujian sekolah (USEK) KKPI, pelajari materi berikut. Tersedia dua paket, yaitu Paket A dan Paket B.
- Paket A, klik di sini
- Paket B, klik di sini
Kunci jawaban akan dikirim via email, jika Anda sudah mendaftar di sini. Klik link ini.

Jangan lupa, tinggalkan alamat email pada komentar.

BURUAN, KARENA LINK AKAN SEGERA DITUTUP.

Monday, 17 August 2009

BLINGSATAN DI SMKN 6 SURABAYA

Osis SMK Negeri 6 Surabaya untuk kesekian kalinya menghadirkan Pensi (Pentas Seni). Tahun ini bersamaan dengan event peringatan HUT ke-64 RI, OSIS SMK Negeri 6 Surabaya menghadirkan banyak grup band. Dalam acara dengan titel "SMAKSIX Nice Performance" grup-grup yang turut berpartisipasi di antaranya BLINGSATAN, HEAVY MONSTER, MAHAGHITA, AUFKLA, NINGRAT, ALSO PERFORM, ESSA, CAMPCITY AFTERNIGHT, THE POLKADOT, GOOD LUCK, YNH, ROLLBAR, BIE N BYE, NEW PORTH 95, DAN 6 BAND AUDISI.

Selain tampilan beberapa band tersebut, acara yang diselenggarakan tgl. 18 Agustus 2009 di Lapangan SMK Negeri 6 Surabaya pukul 09.00 selesai tersebut juga akan diramaikan oleh Dancers dan Bazaar. Acara ini didukung oleh EBS 105,9FM, Coca Cola, La Tulipe, Honda, Gudang Event, dan PK Management. Ticket Box bisa menghubungi OSIS SMKN 6 Surabaya atau contact person: Fachry 085730441013, Arin 085755597422, Lina 085733050085.

Tuesday, 2 June 2009

100% Siswa 19 Sekolah Tidak Lulus?

Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia pendidikan kita. Sebanyak 19 sekolah di negeri tercinta ini menghebohkan dengan angka ketidaklulusan sebesar 100%. Yang lebih parah lagi, di antara sekolah-sekolah tersebut terdapat beberapa sekolah yang sudah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Ironis khan?

Kita tidak usah terburu-buru menghakimi siswa kalau toh benar mereka mencontoh kunci jawaban palsu yang beredar saat itu (ini khan belum terbukti secara hukum alias hanya praduga). Beberapa kemungkinan bisa muncul dari permasalahan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa mengindikasikan terdapatnya beberapa kejanggalan.
Pertama, siswa yang mengikuti UAN saat itu ternyata kini justru sudah diterima di berbagai PTN. Apakah mungkin, siswa yang jelas-jelas sudah diterima tersebut, baik melalui PMDK atau jalur khusus lainnya, masih mempunyai sikap percaya pada hal lain di luar kemampuannya. Siswa yang pandai, tentu akan percaya pada diri sendiri (buktinya bukan hanya satu atau dua orang saja). Kalau saat UAN dia diberi kunci jawaban pun, pasti dia merasa tidak tertarik. Karena dari awalnya dia sudah pandai.
Kedua, secara kelembagaan setiap sekolah (terlebih RSBI) tentu akan terpacu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai sekolah yang pantas mendapat penghargaan sematan nama tersebut. Dan, bagi sekolah RSBI tentu mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan yang dijalankan di lembaga tersebut. Tentunya, sekolah tersebut merasa risih apabila menggunakan langkah penyebarluasan jawaban UAN kepada siswanya terlebih dengan tujuan untuk meningkatkan image sekolah.
Ketiga, tidak adanya bantahan sama sekali dari pihak sekolah ataupun siswa-siswa sekolah bersangkutan. Tidak ada siswa yang membantah jika mereka merasa memang tidak melakukan hal tersebut. Secara kelembagaan, sekolah justru harus memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut (penyebarluasan jawaban UAN palsu) tidak pernah dilakukan. Pihak sekolah tidak pernah melakukan hal tersebut, justru mengamini jika siswa-siswa melakukan praktek tersebut (tetapi belum pernah dilakukan interogasi kepada para siswa khan??) Langkah yang perlu dilakukan sekolah adalah melakukan cross check kepada siswa-siswanya terlebih dahulu, jangan menghakimi siswa (atau mencari kambing hitam atas 'pesanan'??)
Keempat, mengapa kejadian tersebut sampai terjadi pada daerah-daerah berbeda, bukan satu daerah saja. Kalau kemungkinan terjadi pemberian kunci jawaban palsu, daerah kasusnya hanya dalam batas wilayah kecil bukan skala nasional.
Kelima, perguruan tinggi negeri yang diberi tugas mengawal pelaksanaan UAN tempo hari belum (tidak pernah) mengklarifikasi tentang kasus tersebut. Yang terjadi sumber berita berpusat pada beberapa pihak saja. Seharusnya, harus ada perimbangan berita dari sumber penilai atau pendamping kegiatan UAN tersebut.
Alasan-alasan tersebut menarik untuk diperdebatkan. Apakah benar-benar siswa telah melakukan kegiatan tersebut? Mengapa sekolah mengamini (ikut menghakimi) siswa yang belum tentu bersalah? Begitu mudahnya vonis bahwa yang bersalah dalam kasus tersebut adalah siswa? Begitu mudahnya diadakan ujian ulang terhadap kasus tersebut.
Kalau toh boleh saya memberikan pertimbangan, mengapa siswa hamil (melahirkan?) saat UNAS dilarang mengikuti ujian? Padahal, belum tentu dia lulus ataukah tidak? Mengapa siswa-siswa yang bersalah (seperti "dirumahkan" di kantor polisi) masih mempunyai hak untuk ikut UNAS sementara siswa hamil/melahirkan tidak mempunyai hak? Marilah kita meluruskan dan menata sistem pendidikan kita bukan berdasarkan tawar menawar.

Thursday, 26 February 2009

Premanisme pada Siswa Sekolah

Dunia pendidikan tidak ubahnya seperti roller coster. Selalu ada saja yang baru di dalam dinamika pendidikan kita, baik itu kabar menggembirakan maupun berita menggemparkan. Kalau kita membuat perbandingan sisi manakah yang paling tinggi, tidaklah menjadi masalah. Yang perlu diperbincangkan adalah sisi buruk yang terjadi di dunia pendidikan kita. Kalau yang baik-baik tidak usah diperbincangkan karena cukup dinikmati saja.

Seperti diketahui bersama, akhir-akhir ini dunia pendidikan bergolak dengan silih bergantinya aksi seperti preman di kalangan remaja sekolah kita. Mereka bertindak di luar kontrol (emosi) dan di luar batas esensi sebagai wanita. Bahkan, apa yang mereka lakukan tidak mencerminkan insan-insan berpendidikan. Kita pun pantas bertanya, apakah mereka betul-betul kaum terpelajar ataukah hanya sekadar "bersekolah". Apakah yang salah dalam sistem pendidikan kita? Apakah pendidikan kita pun memasukkan sistem kedisiplinan tidak terkontrol atau premanisme di kalangan pelajar kita. Atau, pelajar kita sudah tidak mau diberi pola-pola kepribadian ketimuran atau pendisplinan diri?
Kita tidak usah mempersalahkan siapa yang harus bertanggung jawab. Kalau itu yang terjadi, tentu tidak ada yang mau dipersalahkan. Langkah yang mungkin bisa diberikan adalah bagaimana kita memecahkan dan menguraikan permasalahan yang terjadi tersebut. Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan kembali.
Pertama, ada baiknya kita menataulang orientasi output pendidikan kita. Memang, mutu lulusan kita harus mampu memenuhi kebutuhan dunia industri/dunia usaha kita. Tetapi, kita harus juga memperhatikan etika pekerja di dunia kerja. Pekerja profesional juga dituntut mempunyai sikap profesional yaitu berdisiplin. Pekerja profesional bukan kumpulan orang-orang tidak beretika atau bersopan santun.
Kedua, apakah tujuan awal siswa bersekolah? Apakah mereka hanya ingin belajar untuk mendapatkan ilmu baru? Anak bersekolah agar kalau tamat bisa langsung bekerja dan membantuk meringankan beban keluarga. Sekolah biar dapat ijazah sehingga tidak memalukan keluarga. Kalau prinsip itu ada di benak siswa-siswa maka perlu direvisi. Alangkah baiknya niat mereka bersekolah bertujuan mampu memperoleh nilai-nilai baru yang belum didapatkan selama ini. Bagaimana seharusnya sikap pribadi seiring dengan perkembangan usia.