Showing posts with label diskusi. Show all posts
Showing posts with label diskusi. Show all posts

Tuesday, 22 December 2009

Hari Ibu, Hari Bapak, dan Hari Anak

Seluruh warga Indonesia hari ini dengan bangganya menghargai salah seorang pilar keluarga dan bangsa. Ya, makhluk yang memperoleh penghargaan tersebut adalah ibu. Mengapa harus ibu, bukan bapak?

Ini yang menjadi pokok pembahasan kita. Apakah peran ibu yang penting dalam pembentukan karakter anak saat usia dini? Padahal, bapak juga ikut berperan. Apakah ibu yang melahirkan anak, bukan bapak? Adakah kaitan antara bumi dan bumi? Ataukah, ada 'sebab musabab' yang mendasarinya. Mungkin, tidak ada salahnya Anda mencari di si Mbah Google atau wikidpedia

Tuesday, 2 June 2009

100% Siswa 19 Sekolah Tidak Lulus?

Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia pendidikan kita. Sebanyak 19 sekolah di negeri tercinta ini menghebohkan dengan angka ketidaklulusan sebesar 100%. Yang lebih parah lagi, di antara sekolah-sekolah tersebut terdapat beberapa sekolah yang sudah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Ironis khan?

Kita tidak usah terburu-buru menghakimi siswa kalau toh benar mereka mencontoh kunci jawaban palsu yang beredar saat itu (ini khan belum terbukti secara hukum alias hanya praduga). Beberapa kemungkinan bisa muncul dari permasalahan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa mengindikasikan terdapatnya beberapa kejanggalan.
Pertama, siswa yang mengikuti UAN saat itu ternyata kini justru sudah diterima di berbagai PTN. Apakah mungkin, siswa yang jelas-jelas sudah diterima tersebut, baik melalui PMDK atau jalur khusus lainnya, masih mempunyai sikap percaya pada hal lain di luar kemampuannya. Siswa yang pandai, tentu akan percaya pada diri sendiri (buktinya bukan hanya satu atau dua orang saja). Kalau saat UAN dia diberi kunci jawaban pun, pasti dia merasa tidak tertarik. Karena dari awalnya dia sudah pandai.
Kedua, secara kelembagaan setiap sekolah (terlebih RSBI) tentu akan terpacu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai sekolah yang pantas mendapat penghargaan sematan nama tersebut. Dan, bagi sekolah RSBI tentu mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan yang dijalankan di lembaga tersebut. Tentunya, sekolah tersebut merasa risih apabila menggunakan langkah penyebarluasan jawaban UAN kepada siswanya terlebih dengan tujuan untuk meningkatkan image sekolah.
Ketiga, tidak adanya bantahan sama sekali dari pihak sekolah ataupun siswa-siswa sekolah bersangkutan. Tidak ada siswa yang membantah jika mereka merasa memang tidak melakukan hal tersebut. Secara kelembagaan, sekolah justru harus memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut (penyebarluasan jawaban UAN palsu) tidak pernah dilakukan. Pihak sekolah tidak pernah melakukan hal tersebut, justru mengamini jika siswa-siswa melakukan praktek tersebut (tetapi belum pernah dilakukan interogasi kepada para siswa khan??) Langkah yang perlu dilakukan sekolah adalah melakukan cross check kepada siswa-siswanya terlebih dahulu, jangan menghakimi siswa (atau mencari kambing hitam atas 'pesanan'??)
Keempat, mengapa kejadian tersebut sampai terjadi pada daerah-daerah berbeda, bukan satu daerah saja. Kalau kemungkinan terjadi pemberian kunci jawaban palsu, daerah kasusnya hanya dalam batas wilayah kecil bukan skala nasional.
Kelima, perguruan tinggi negeri yang diberi tugas mengawal pelaksanaan UAN tempo hari belum (tidak pernah) mengklarifikasi tentang kasus tersebut. Yang terjadi sumber berita berpusat pada beberapa pihak saja. Seharusnya, harus ada perimbangan berita dari sumber penilai atau pendamping kegiatan UAN tersebut.
Alasan-alasan tersebut menarik untuk diperdebatkan. Apakah benar-benar siswa telah melakukan kegiatan tersebut? Mengapa sekolah mengamini (ikut menghakimi) siswa yang belum tentu bersalah? Begitu mudahnya vonis bahwa yang bersalah dalam kasus tersebut adalah siswa? Begitu mudahnya diadakan ujian ulang terhadap kasus tersebut.
Kalau toh boleh saya memberikan pertimbangan, mengapa siswa hamil (melahirkan?) saat UNAS dilarang mengikuti ujian? Padahal, belum tentu dia lulus ataukah tidak? Mengapa siswa-siswa yang bersalah (seperti "dirumahkan" di kantor polisi) masih mempunyai hak untuk ikut UNAS sementara siswa hamil/melahirkan tidak mempunyai hak? Marilah kita meluruskan dan menata sistem pendidikan kita bukan berdasarkan tawar menawar.

Tuesday, 7 April 2009

TIDAK PULANG KANGEN, MAU PULANG MALU

Pak Umar Bakri adalah buruh spidol. Tapi, awalnya dia merupakan buruh kapur tulis. Semenjak papan tulis berubah menjadi whiteboard, kapur tulis digantikan dengan spidol. Tidak mengherankan apabila spidol telah menjadi sahabat setianya.
Setiap hari Pak Umar Bakri selalu menyihir anak didiknya dengan kelincahan spidolnya di atas whiteboard. Kadangkala, Pak Umar Bakri mendapatkan keceriahan, tapi juga mendapatkan kejengkelan dari perilaku anak didiknya. Baginya, semua perilaku anak didiknya merupakan seni hiburan bagi kehidupannya.


KANGEN PAK UMAR BAKRI
Inilah yang membuat KANGEN Pak Umar Bakri ketika dia telah memutuskan diri untuk beralih profesi menjadi wiraswasta. Sebagai wiraswasta Pak Umar Bakri merasa kecukupan dari segi materi. Tetapi, dari kepuasan batin Pak Umar Bakri merasa asing dengan dunianya. Dia merindukan keceriaan, keluguan, dan kebandelan anak didiknya. Mungkin dia harus terlahir untuk menjadi pendidik bukan wiraswasta. Yang dihadapi kini hanyalah benda mati, yang tidak bisa diajak untuk berbagi keceriaan.
Lain halnya ketika dia berada di sekolah. Dia selalu ceria. Segi batinnya merasa terisi dan terpuaskan walaupun dari segi materi tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pak Umar Bakri sadar betul bahwa yang dibutuhkan oleh anak didiknya adalah pendidikan bukan pengajaran. Oleh karena itu, Pak Umar Bakri tidak pernah memarahi ataupun bahkan memukulnya jika ada anak didiknya berperilaku di luar kewajaran. Dengan sabar Pak Umar Bakri selalu menuntun dan mengarahkan siswanya apabila ada yang bertindak ‘nyeleneh’.
Prinsip yang selalu dipegang oleh Pak Umar Bakri hingga kini bahwa tugas guru adalah mendidik bukan mengajar. Mengajar adalah mudah, tapi mendidik lumayan susah. Kalau hanya sekadar ‘mengajar’, setiap orang (tidak punya profesi pendidik) tentu mampu. Mengajar cenderung bersifat transformasi ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan ‘mendidik’. Mendidik merupakan proses pembentukan nilai-nilai norma, sopan-santun, perilaku, dan kematangan berfikir. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat (sepakat?) memakai istilah ‘peserta didik, anak didik, pendidikan dasar, dinas pendidikan’, dan sebagainya bukan dengan sebutan ‘peserta ajar’, ‘anak ajar’, ‘pengajaran dasar’, dan ‘dinas pengajaran’.
Tidak mengherankan, kadang-kadang Pak Umar Bakri merenung dan berfikir keras apabila menjumpai teman kerjanya yang hanya sekadar datang, memberikan materi, dan pulang. Menurutnya, tidak perlu sekolah lagi apabila prosesnya demikian. Siswa cukup di’privat’kan; habis perkara.
Lebih memprihatinkan lagi, jika ada anak didik bermasalah, pihak pertama yang dipersalahkan adalah siswa bersangkutan. Janganlah anak yang sudah bersalah, justru dipersalahkan lagi. Alangkah arifnya jika kita peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh anak didik. Kita tidak perlu menunggu timbulnya perilaku menyimpang anak, tetapi seharusnya mampu mendeteksi dan mencegah timbulnya masalah pada anak didik kita.
Yang sangat menyedihkan adalah tuntutan kesejahteraan yang ditujukan kepada pemerintah. Abdi masyarakat yang sudah sejahtera dan menjadi pegawai pemerintah ini mengharapkan lebih sejahtera lagi. Wajar jika pemerintah mengamini permintaan tersebut sebab pemerintah juga membutuhkan dukungan dari elemen pendidikan ini. Tapi, kita juga perlu berkaca bahwa apakah yang sudah kita berikan untuk anak didik (sekolah) sudah layak dihargai sedemikian besar? Padahal, kalau kita mau berbagi nasib; masih ada salah satu elemen dari pendidikan (sekolah) kita yang juga butuh perhatian, yaitu Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Kita telah tahu loyalitas dan pengabdian mereka dalam pendidikan kita. Tidak hanya setahun dua tahun tetapi sudah puluhan tahun mereka mengabdikan diri di sekolah. Pernahkah kita peduli terhadap kehidupan keluarganya? Padahal, mereka juga merupakan salah satu bagian dalam rangka melaksanakan dan meningkatkan citra pendidikan kita. Mereka datang sebelum siswa datang, mereka pulang setelah siswa pulang. Mereka juga mempunyai prestasi. Tetapi, penghargaan apakah yang telah mereka dapatkan? Seharusnya kita merasa malu terhadap kenyataan ini.
KENYATAAN INI MEMBUAT MALU BAGI PAK UMAR BAKRI.

Friday, 27 March 2009

ORANG STRESS BARU

Ada apa dengan judul di atas? Tidak ada yang istimewa, tapi tentunya sangat menggelitik. Artikel ini ditulis karena masih ada kaitannya dengan artikel sebelumnya yaitu "Sebenarnya Kita Kaya; Sebuah Refleksi Maraknya Kontestan Pemilu 2009" Ternyata, kalau kita mau menelusuri lebih jauh tentang pemilu 2009, kita tentu akan mendapatkan persoalan-persoalan baru sebagai imbas dari pemilu 2009 ini. Artikel kali ini berbicara tentang stres yang mungkin terjadi pada caleg Pemilu 2009, baik caleg (calon legislatif) yang sudah jadi ataupun caleg yang tidak jadi terpilih.

Ini adalah sebetulnya bukan kabar terbaru lagi. Rumah sakit di Bogor telah menyiapkan beberapa kamar VIP untuk calon legislatif yang gagal mendapatkan kursi legislatif. Kamar-kamar tersebut sudah disesuaikan dengan fasilitas-fasilitas yang memuaskan. Sebuah antisipasi dan analisis pangsa pasar yang baik. Mungkin, langkah salah satu rumah sakit di Bogor tersebut perlu diikuti oleh rumah sakit-rumah sakit seluruh Indonesia.
Mengapa harus demikian? Mari kita mengingat kembali peristiwa yang kurang mendidik. Setelah dinyatakan kalah dalam pemilihan bupati Ponorogo, salah seorang calon bupati mengalami goncangan jiwa (karena hutang yang belum terlunasi) alias stress. Gangguan kejiwaannya sudah melampaui batas normal, bisa dikatakan hampir gila. Mungkin, kita tidak akan mendapatkan berita-berita tersebut andaikata kita mampu menyikapi segala kegagalan dengan batas kewajaran. Selain itu, kita sudah harus siap untuk mendapatkan kegagalan.
Nah, gejala stess di masyarakat mungkin akan menjadi berita heboh untuk beberapa hari ke depan. Seperti diketahui, 9 April kita akan melangsungkan pemilihan caleg baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Banyak nama yang terpampang dan berpromosi diri. Tapi, pernahkah terpikirkan oleh kita; berita apakah yang akan terjadi setelah itu? Ya, kemungkinan-kemungkinan akan banyak terjadi. Mulai dari timbulnya para demokrat baru, orang kaya baru, orang dermawan baru, hingga orang-orang stress baru.
Gejala stress bukan hanya dialami oleh caleg yang gagal tapi mungkin juga bisa terjadi pada orang yang sudah duduk di kursi parlemen. Kenapa bisa demikian?
Caleg jadi dan sudah duduk di kursi parlemen tetapi belum siap untuk melaksanakan tugas-tugas yang dirasakan baru/asing bagi dia justru akan menjadikan beban bagi dia. Orang-orang parlemen dadakan model demikian akan sulit melangkah, dan akan merasa asing dalam lingkungannya, yang pada akhirnya membuat dia stress.
Nah, sekarang bagi caleg yang gagal. Setelah dinyatakan gagal bersaing, caleg tersebut akan kembali ke habitatnya semula. Yang biasa berjualan di pasar, dia akan kembali ke pasar. Yang biasa bertani, dia akan kembali ke sawah; dan sebagainya. Tidak akan menjadi sebuah persoalan apabila dia awalnya maju mencalonkan diri dengan bekal yang memang dimilikinya. Tetapi, menjadi masalah apabila modal yang digunakan tersebut berasal dari hutang sana-sini. Repot khan?? Tiap hari ditagih orang dari mana saja. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak.
Tentu kita tidak mau apabila mendapati hal demikian. Yang perlu direnungkan kembali adalah seberapa pantaskah kita menasbihkan diri untuk menjadi wakil dari lingkungan kita sendiri? Seberapa siapkah kita untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan baru di parlemen? Sudah cukupkah penghasilan kita untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga kita maju untuk mencukupi kebutuhan orang-orang lain? Karena, sebagai wakil legislatif tujuan yang pasti adalah mewakili aspirasi orang lain BUKAN mencari penghasilan lain dari orang lain. Mari kita menjadi saksi bersejarah, apakah hal demikian akan terjadi? BUKA MATA BUKA TELINGA, INI HANYA TERJADI DI INDONESIA.

Saturday, 21 March 2009

CATATAN PEMILU DARI TAUFIK ISMAIL

Hanya dalam hitungan hari, kita akan melangsungkan pesta demokrasi di Indonesia tercinta. Ada baiknya kita renungkan kembali harapan Taufik Ismail untuk berproses kembali menjadi bangsa yang dihormati di dunia, seperti yang pernah kita alami setengah abad lebih yang silam. Kenangan dan harapan Taufik Ismail tersebut diwujudkan dalam bentuk bentuk puisi "Ketika Indonesia Dihormati Dunia" yang diterbitkan oleh Horison, Edisi XII, 2008.

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka

Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam sejarah bangsa
Pemilihan Umum pertama, yang sangat bersih dalam sejarah kita
Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah jujur dan adil
Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma dilaksanakan
Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi
Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma dilangsungkan
Pesta yang bermakna kegembiraan bersama
Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda

Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan
Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah ditumpahkan
Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang
Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan lalu dibakar
Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api berkobar
Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar sogok-sogokan
Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada kecurangan


Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia
Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias senyuman
Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan
Sebagai massa, kita jauh dari kebringasan, jauh dari keganasan

Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu berurutan
Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi dalam ukuran
Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai mereka kibarkan
Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam dikoborkan
Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah,
lalu berkelahi dan berbunuhan
Anak bangsa tewas ratusan,
mobil dan bangunan dibakar puluhan

Anak bangsa muda-muda usia,
satu-satu ketemu di jalan mereka sopan-sopan
Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di lapangan
Pawai keliling kota,
berdiri di atap kendaraan, melanggar semua aturan
Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon,
di tangan bendera berkibaran
Meneriak-neriakkan tanda seru
dalam sepuluh kalimat semboyan dan slogan
Berubah mereka jadi beringas
dan siap mengamuk, melakukan kekerasan
Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan diayunkan
Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku
Bangsaku

Wednesday, 23 April 2008

Diskusi Bahasa

Di sini kita bisa saling berbagi berbagai permasalahan tentang kebahasaan yang terjadi di masyarakat, terutama tanpa kita sadari bahwa bahasa yang kita pakai ternyata belum sepenuhnya benar secara kaidah bahasa Indonesia. Alangkah, bersalahnya kita apabila terus menerus kesalahan yang sama padahal kita telah mengetahuinya. Ingat, Sumpah Pemuda bukan hanya untuk saat sekarang. Tetapi, untuk masa-masa mendatang. Marilah kita mencoba untuk peduli terhadap bahasa kita sendiri.