Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Friday, 16 March 2012

KUNCI JAWABAN USEK KKPI 2011-2012

Perhatian :
Kunci jawaban USEK KKPI Paket A dan Paket B diberikan setelah mendaftar di link-link berikut.
SEGERA KLIK DI SINI.
ATAU daftar di sini.
ATAUDaftar di sini
SAMBIL BELAJAR, SEBENARNYA ANDA JUGA TELAH MENGHASILKAN DOLLAR TANPA MODAL, CUKUP DAFTAR AJA DI LINK-LINK YANG TELAH SAYA SEDIAKAN.

Tuesday, 6 December 2011

SOAL UAS KELAS X, XI, DAN XII SEMESTER GANJIL TAHUN 2011-2012

Berikut latihan soal UAS KKPI Semester Ganjil tahun pelajaran 2011-2012. Anda pelajari materi tersebut sebagai kisi-kisi UAS.
Kisi-kisi/Soal UAS KKPI Kelas X, klik disini
Kisi-kisi/Soal UAS KKPI Kelas XI, klik sini Atau juga bisa klik di sini
Kisi-kisi/Soal UAS KKPI Kelas XII, klik di sini

Saturday, 19 September 2009

SELAMAT JALAN PAKAR KEBAKUAN BAHASA INDONESIA

Anda telah mengenal nama Anton Mulyono, Gorrys Keraf, Jus Badudu, dan sebagainya. Tapi, apakah Anda pernah tahu orang yang betul-betul gigih membela dan mempertahankan kebakuan bahasa Indonesia dalam pemakaiannya sebagai bahasa resmi? Mungkin, nama beliau tidak terdengar nyaring seperti nama-nama di atas karena belum semua orang paham dengan peran beliau.

Gatot Susilo Sumowijoyo, adalah sebuah nama yang mungkin asing bagi kalangan ahli-ahli bahasa Indonesia, bahkan siswa-siswa didik di seluruh Indonesia. Tapi, ada juga pakar bahasa yang telah memberikan apresiasi besar terhadap jasa beliau dalam perkembangan bahasa Indonesia. Apresiasi tersebut diwujudkan dalam permintaan beliau untuk tetap kritis terhadap penggunaan bahasa Indonesia.
Sepanjang pengetahuan saya, bahasa Indonesia baku adalah Bapak Gatot. Bapak Gatot adalah bahasa Indonesia baku. Kalau boleh saya katakan bahwa bahasa Indonesia baku telah "mewujud" dalam diri Bapak Gatot. Dalam suatu acara yang saya ikuti, saya menyaksikan betapa pilunya Bapak Gatot ketika menjumpai banyaknya ketidakbakuan yang terjadi di kalangan pemakai bahasa Indonesia. Air matanya menetes ketika berbicara tentang hal itu.
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dalam setiap puisi dan cerpen-cerpen (kumpulan cerpen) beliau selalu kita jumpai bentuk-bentuk baku bahasa Indonesia. Beliau berkeyakinan bahwa mengapa kita tidak bisa "membentuk" bahasa puisi dengan bahasa-bahasa baku senyampang bahasa baku itu tidak akan mengurangi nilai estetika puisi atau karya sastra tersebut.
Jumat, 18 September 2009 sekitar pukul 15.30 telah sampai berita kepada saya bahwa telah meninggal dunia, guru, bapak, pakar bahasa kita, Gatot Susilo S., Marilah, di kesempatan yang membahagiakan ini kita iringi kepergian tokoh bahasa Indonesia baku kita, Bapak Gatot Susilo Sumowijoyo, dengan mengharap ridho Allah SWT semoga amal ibadah dan jasa keilmuwanan beliau diterima di sisiNya.

Monday, 17 August 2009

BLINGSATAN DI SMKN 6 SURABAYA

Osis SMK Negeri 6 Surabaya untuk kesekian kalinya menghadirkan Pensi (Pentas Seni). Tahun ini bersamaan dengan event peringatan HUT ke-64 RI, OSIS SMK Negeri 6 Surabaya menghadirkan banyak grup band. Dalam acara dengan titel "SMAKSIX Nice Performance" grup-grup yang turut berpartisipasi di antaranya BLINGSATAN, HEAVY MONSTER, MAHAGHITA, AUFKLA, NINGRAT, ALSO PERFORM, ESSA, CAMPCITY AFTERNIGHT, THE POLKADOT, GOOD LUCK, YNH, ROLLBAR, BIE N BYE, NEW PORTH 95, DAN 6 BAND AUDISI.

Selain tampilan beberapa band tersebut, acara yang diselenggarakan tgl. 18 Agustus 2009 di Lapangan SMK Negeri 6 Surabaya pukul 09.00 selesai tersebut juga akan diramaikan oleh Dancers dan Bazaar. Acara ini didukung oleh EBS 105,9FM, Coca Cola, La Tulipe, Honda, Gudang Event, dan PK Management. Ticket Box bisa menghubungi OSIS SMKN 6 Surabaya atau contact person: Fachry 085730441013, Arin 085755597422, Lina 085733050085.

Tuesday, 2 June 2009

100% Siswa 19 Sekolah Tidak Lulus?

Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia pendidikan kita. Sebanyak 19 sekolah di negeri tercinta ini menghebohkan dengan angka ketidaklulusan sebesar 100%. Yang lebih parah lagi, di antara sekolah-sekolah tersebut terdapat beberapa sekolah yang sudah berstatus RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Ironis khan?

Kita tidak usah terburu-buru menghakimi siswa kalau toh benar mereka mencontoh kunci jawaban palsu yang beredar saat itu (ini khan belum terbukti secara hukum alias hanya praduga). Beberapa kemungkinan bisa muncul dari permasalahan tersebut. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa mengindikasikan terdapatnya beberapa kejanggalan.
Pertama, siswa yang mengikuti UAN saat itu ternyata kini justru sudah diterima di berbagai PTN. Apakah mungkin, siswa yang jelas-jelas sudah diterima tersebut, baik melalui PMDK atau jalur khusus lainnya, masih mempunyai sikap percaya pada hal lain di luar kemampuannya. Siswa yang pandai, tentu akan percaya pada diri sendiri (buktinya bukan hanya satu atau dua orang saja). Kalau saat UAN dia diberi kunci jawaban pun, pasti dia merasa tidak tertarik. Karena dari awalnya dia sudah pandai.
Kedua, secara kelembagaan setiap sekolah (terlebih RSBI) tentu akan terpacu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai sekolah yang pantas mendapat penghargaan sematan nama tersebut. Dan, bagi sekolah RSBI tentu mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan yang dijalankan di lembaga tersebut. Tentunya, sekolah tersebut merasa risih apabila menggunakan langkah penyebarluasan jawaban UAN kepada siswanya terlebih dengan tujuan untuk meningkatkan image sekolah.
Ketiga, tidak adanya bantahan sama sekali dari pihak sekolah ataupun siswa-siswa sekolah bersangkutan. Tidak ada siswa yang membantah jika mereka merasa memang tidak melakukan hal tersebut. Secara kelembagaan, sekolah justru harus memberikan klarifikasi bahwa hal tersebut (penyebarluasan jawaban UAN palsu) tidak pernah dilakukan. Pihak sekolah tidak pernah melakukan hal tersebut, justru mengamini jika siswa-siswa melakukan praktek tersebut (tetapi belum pernah dilakukan interogasi kepada para siswa khan??) Langkah yang perlu dilakukan sekolah adalah melakukan cross check kepada siswa-siswanya terlebih dahulu, jangan menghakimi siswa (atau mencari kambing hitam atas 'pesanan'??)
Keempat, mengapa kejadian tersebut sampai terjadi pada daerah-daerah berbeda, bukan satu daerah saja. Kalau kemungkinan terjadi pemberian kunci jawaban palsu, daerah kasusnya hanya dalam batas wilayah kecil bukan skala nasional.
Kelima, perguruan tinggi negeri yang diberi tugas mengawal pelaksanaan UAN tempo hari belum (tidak pernah) mengklarifikasi tentang kasus tersebut. Yang terjadi sumber berita berpusat pada beberapa pihak saja. Seharusnya, harus ada perimbangan berita dari sumber penilai atau pendamping kegiatan UAN tersebut.
Alasan-alasan tersebut menarik untuk diperdebatkan. Apakah benar-benar siswa telah melakukan kegiatan tersebut? Mengapa sekolah mengamini (ikut menghakimi) siswa yang belum tentu bersalah? Begitu mudahnya vonis bahwa yang bersalah dalam kasus tersebut adalah siswa? Begitu mudahnya diadakan ujian ulang terhadap kasus tersebut.
Kalau toh boleh saya memberikan pertimbangan, mengapa siswa hamil (melahirkan?) saat UNAS dilarang mengikuti ujian? Padahal, belum tentu dia lulus ataukah tidak? Mengapa siswa-siswa yang bersalah (seperti "dirumahkan" di kantor polisi) masih mempunyai hak untuk ikut UNAS sementara siswa hamil/melahirkan tidak mempunyai hak? Marilah kita meluruskan dan menata sistem pendidikan kita bukan berdasarkan tawar menawar.

Tuesday, 7 April 2009

TIDAK PULANG KANGEN, MAU PULANG MALU

Pak Umar Bakri adalah buruh spidol. Tapi, awalnya dia merupakan buruh kapur tulis. Semenjak papan tulis berubah menjadi whiteboard, kapur tulis digantikan dengan spidol. Tidak mengherankan apabila spidol telah menjadi sahabat setianya.
Setiap hari Pak Umar Bakri selalu menyihir anak didiknya dengan kelincahan spidolnya di atas whiteboard. Kadangkala, Pak Umar Bakri mendapatkan keceriahan, tapi juga mendapatkan kejengkelan dari perilaku anak didiknya. Baginya, semua perilaku anak didiknya merupakan seni hiburan bagi kehidupannya.


KANGEN PAK UMAR BAKRI
Inilah yang membuat KANGEN Pak Umar Bakri ketika dia telah memutuskan diri untuk beralih profesi menjadi wiraswasta. Sebagai wiraswasta Pak Umar Bakri merasa kecukupan dari segi materi. Tetapi, dari kepuasan batin Pak Umar Bakri merasa asing dengan dunianya. Dia merindukan keceriaan, keluguan, dan kebandelan anak didiknya. Mungkin dia harus terlahir untuk menjadi pendidik bukan wiraswasta. Yang dihadapi kini hanyalah benda mati, yang tidak bisa diajak untuk berbagi keceriaan.
Lain halnya ketika dia berada di sekolah. Dia selalu ceria. Segi batinnya merasa terisi dan terpuaskan walaupun dari segi materi tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.
Pak Umar Bakri sadar betul bahwa yang dibutuhkan oleh anak didiknya adalah pendidikan bukan pengajaran. Oleh karena itu, Pak Umar Bakri tidak pernah memarahi ataupun bahkan memukulnya jika ada anak didiknya berperilaku di luar kewajaran. Dengan sabar Pak Umar Bakri selalu menuntun dan mengarahkan siswanya apabila ada yang bertindak ‘nyeleneh’.
Prinsip yang selalu dipegang oleh Pak Umar Bakri hingga kini bahwa tugas guru adalah mendidik bukan mengajar. Mengajar adalah mudah, tapi mendidik lumayan susah. Kalau hanya sekadar ‘mengajar’, setiap orang (tidak punya profesi pendidik) tentu mampu. Mengajar cenderung bersifat transformasi ilmu pengetahuan. Lain halnya dengan ‘mendidik’. Mendidik merupakan proses pembentukan nilai-nilai norma, sopan-santun, perilaku, dan kematangan berfikir. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat (sepakat?) memakai istilah ‘peserta didik, anak didik, pendidikan dasar, dinas pendidikan’, dan sebagainya bukan dengan sebutan ‘peserta ajar’, ‘anak ajar’, ‘pengajaran dasar’, dan ‘dinas pengajaran’.
Tidak mengherankan, kadang-kadang Pak Umar Bakri merenung dan berfikir keras apabila menjumpai teman kerjanya yang hanya sekadar datang, memberikan materi, dan pulang. Menurutnya, tidak perlu sekolah lagi apabila prosesnya demikian. Siswa cukup di’privat’kan; habis perkara.
Lebih memprihatinkan lagi, jika ada anak didik bermasalah, pihak pertama yang dipersalahkan adalah siswa bersangkutan. Janganlah anak yang sudah bersalah, justru dipersalahkan lagi. Alangkah arifnya jika kita peduli terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh anak didik. Kita tidak perlu menunggu timbulnya perilaku menyimpang anak, tetapi seharusnya mampu mendeteksi dan mencegah timbulnya masalah pada anak didik kita.
Yang sangat menyedihkan adalah tuntutan kesejahteraan yang ditujukan kepada pemerintah. Abdi masyarakat yang sudah sejahtera dan menjadi pegawai pemerintah ini mengharapkan lebih sejahtera lagi. Wajar jika pemerintah mengamini permintaan tersebut sebab pemerintah juga membutuhkan dukungan dari elemen pendidikan ini. Tapi, kita juga perlu berkaca bahwa apakah yang sudah kita berikan untuk anak didik (sekolah) sudah layak dihargai sedemikian besar? Padahal, kalau kita mau berbagi nasib; masih ada salah satu elemen dari pendidikan (sekolah) kita yang juga butuh perhatian, yaitu Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Kita telah tahu loyalitas dan pengabdian mereka dalam pendidikan kita. Tidak hanya setahun dua tahun tetapi sudah puluhan tahun mereka mengabdikan diri di sekolah. Pernahkah kita peduli terhadap kehidupan keluarganya? Padahal, mereka juga merupakan salah satu bagian dalam rangka melaksanakan dan meningkatkan citra pendidikan kita. Mereka datang sebelum siswa datang, mereka pulang setelah siswa pulang. Mereka juga mempunyai prestasi. Tetapi, penghargaan apakah yang telah mereka dapatkan? Seharusnya kita merasa malu terhadap kenyataan ini.
KENYATAAN INI MEMBUAT MALU BAGI PAK UMAR BAKRI.

Thursday, 12 March 2009

DILEMATIKA BOPDA

Sekolah sebagai tempat pembelajaran bagi siswa seharusnya juga menerapkan prinsip demokrasi seperti kejujuran, integritas, transparansi dan bebas dari korupsi. Namun dalam prakteknya seringkali terjadi pelanggaran. Misalnya saja terjadi penggelapan, mark up, penyalahgunaan anggaran, manipulasi anggaran, penyuapan dan jual beli nilai/kenaikan kelas.

Dalam beberapa kasus, terjadi dobel pelaporan. Sebagai contoh, suatu sekolah akan membeli 20 unit komputer, dengan harga @ Rp 8 juta, atau total Rp 160 juta. Ternyata, pembelian 20 unit komputer tidak hanya dilaporkan dalam pelaporan dana BOS. Tetapi item pembelian tersebut dimasukkan dalam laporan penggunaan dana BOP dan penggunaan dana iuran dari siswa. Dengan adanya 3 pelaporan itu, seharusnya ada 60 komputer yang dibeli. Tapi kenyataannya hanya 20 unit. Artinya ada uang yang melayang Rp 320 juta. Kemana larinya uang tersebut? Itu baru 1 item pengadaan komputer. Bagaimana dengan pengadaan item yang lain?
Secara garis besar, dana Bopda untuk sekolah negeri dan hibah Bopda (untuk sekolah swasta) digunakan untuk delapan hal. Yakni, pengadaan alat tulis kantor, pembayaran rekening listrik dan air, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, pengembangan kurikulum, kegiatan kesiswaan akademis dan nonakademis, serta pengadaan sarana dan prasarana pembelajaran. Lalu, pemeliharaan gedung dan fasilitas sekolah. Biaya ekstrakurikuler telah diakomodasi Bopda, yaitu masuk pada poin pembiayaan kegiatan kesiswaan, baik akademis maupun nonakademis. Poin itu juga mencakup les di sekolah. Untuk sekolah swasta, ditambah pengembangan lembaga.
RUJUKAN:
Dari berbagai sumber

Thursday, 26 February 2009

Premanisme pada Siswa Sekolah

Dunia pendidikan tidak ubahnya seperti roller coster. Selalu ada saja yang baru di dalam dinamika pendidikan kita, baik itu kabar menggembirakan maupun berita menggemparkan. Kalau kita membuat perbandingan sisi manakah yang paling tinggi, tidaklah menjadi masalah. Yang perlu diperbincangkan adalah sisi buruk yang terjadi di dunia pendidikan kita. Kalau yang baik-baik tidak usah diperbincangkan karena cukup dinikmati saja.

Seperti diketahui bersama, akhir-akhir ini dunia pendidikan bergolak dengan silih bergantinya aksi seperti preman di kalangan remaja sekolah kita. Mereka bertindak di luar kontrol (emosi) dan di luar batas esensi sebagai wanita. Bahkan, apa yang mereka lakukan tidak mencerminkan insan-insan berpendidikan. Kita pun pantas bertanya, apakah mereka betul-betul kaum terpelajar ataukah hanya sekadar "bersekolah". Apakah yang salah dalam sistem pendidikan kita? Apakah pendidikan kita pun memasukkan sistem kedisiplinan tidak terkontrol atau premanisme di kalangan pelajar kita. Atau, pelajar kita sudah tidak mau diberi pola-pola kepribadian ketimuran atau pendisplinan diri?
Kita tidak usah mempersalahkan siapa yang harus bertanggung jawab. Kalau itu yang terjadi, tentu tidak ada yang mau dipersalahkan. Langkah yang mungkin bisa diberikan adalah bagaimana kita memecahkan dan menguraikan permasalahan yang terjadi tersebut. Ada beberapa hal yang dapat kita renungkan kembali.
Pertama, ada baiknya kita menataulang orientasi output pendidikan kita. Memang, mutu lulusan kita harus mampu memenuhi kebutuhan dunia industri/dunia usaha kita. Tetapi, kita harus juga memperhatikan etika pekerja di dunia kerja. Pekerja profesional juga dituntut mempunyai sikap profesional yaitu berdisiplin. Pekerja profesional bukan kumpulan orang-orang tidak beretika atau bersopan santun.
Kedua, apakah tujuan awal siswa bersekolah? Apakah mereka hanya ingin belajar untuk mendapatkan ilmu baru? Anak bersekolah agar kalau tamat bisa langsung bekerja dan membantuk meringankan beban keluarga. Sekolah biar dapat ijazah sehingga tidak memalukan keluarga. Kalau prinsip itu ada di benak siswa-siswa maka perlu direvisi. Alangkah baiknya niat mereka bersekolah bertujuan mampu memperoleh nilai-nilai baru yang belum didapatkan selama ini. Bagaimana seharusnya sikap pribadi seiring dengan perkembangan usia.